Menyingkap Tabir Sejarah PCNU Bangil: Fakta Mengejutkan Jejak KH. Wahab Chasbullah & Tragedi Arsip yang Hilang

BANGIL – Tim Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Bangil baru saja menggelar wawancara eksklusif dengan Drs. Murtadji Djunaidi, Sekretaris PCNU Bangil periode 1993–1997. Pertemuan krusial ini berlangsung kemarin, Kamis (25/6) pukul 15.30 WIB, bertempat di kediaman beliau di kawasan Bangil.

Wawancara mendalam ini merupakan bagian dari penelusuran sejarah lisan untuk penyusunan buku besar NU Bangil. Namun, dari pertemuan tersebut, justru bermunculan kepingan fakta sejarah yang selama ini jarang diketahui publik.

Lebih Tua dari Cabang Pasuruan?

Dalam dialog tersebut, terungkap sebuah fakta mengejutkan: PCNU Bangil disinyalir berdiri lebih awal dibandingkan dengan PCNU Kabupaten Pasuruan. Rahasia ini ternyata berkaitan erat dengan rekam jejak KH. Wahab Chasbullah—yang juga merupakan Rois Syuriah pertama PCNU Bangil—serta kaitannya dengan wilayah di sekitar SD NU Bangil.

Namun, tahun berapakah tepatnya PCNU Bangil resmi mengibarkan benderanya? Mengapa terdapat perbedaan versi sejarah antara tahun 1928 dan 1930?. Misteri ini akan dikupas tuntas dalam buku yang akan datang.

Misteri Kabupaten Bangil dan Kode Unik ‘Pripar Babeg’

Banyak yang tidak menyadari bahwa instansi ini pada masa lampau resmi bernama “PCNU Cabang Kabupaten Bangil”.

  • Fakta ini mengonfirmasi bahwa Bangil pernah berstatus sebagai wilayah setingkat kabupaten mandiri pada era kolonial, sebelum akhirnya dilebur secara paksa karena alasan ekonomi.

  • PCNU Bangil memiliki otoritas administratif unik atas enam wilayah yang dijuluki Pripar Babeg.

  • Enam wilayah ini bahkan memiliki kode organisasi khusus L-39 yang membedakannya dari wilayah Jawa Timur lainnya.

Bagaimana strategi para Kiai mempertahankan kemandirian organisasi di tengah peleburan wilayah oleh Belanda?

Tragedi Arsip dan Sengketa Aset Bersejarah

Perjalanan PCNU Bangil juga diwarnai kisah dramatis seputar kepemilikan aset-aset vital, seperti Gedung Wakfiyah dan tanah Riyadlul Ulum.

  • Terdapat kisah panjang mulai dari patungan (ngapung) warga NU, wakaf dari tokoh keturunan Arab bernama Al-Haddad, hingga negosiasi tingkat tinggi di masa transisi politik yang harus melibatkan Bupati Pasuruan demi menyelamatkan aset umat.

  • Kisah ini kian menegangkan ketika Drs. Murtadji membeberkan insiden tragis musnahnya berbagai dokumen sejarah NU era awal. Sebagian besar arsip hancur lebur dimakan rayap setelah lemarinya terendam air saat atap rumahnya ambruk.

Apa saja rahasia besar dan dokumen rahasia yang ikut lenyap dalam tragedi rayap tersebut? Dan bagaimana manuver tokoh-tokoh awal NU Bangil dalam merawat organisasi di tengah keterbatasan era pra-kemerdekaan hingga masa reformasi?

Nantikan kisah lengkap, otentik, dan tak terungkap lainnya dalam rilis eksklusif buku sejarah “Menyambung Sanad Perjuangan: Dari Generasi Awal NU Bangil hingga Abad Kedua” yang akan segera diterbitkan oleh Lakpesdam PCNU Bangil! (/.red)